begitu.. bukan begini..
aku berlari ke langit.. menduga pelangi..
bukan kah aku harusnya sendiri?
bukan kah jiwaku berkecai?
air mata hilang mana pergi?
raga ku bertanya hati...
sunyi...
bukan kah hati?
masih sepi...
ku paling pada angin yang berlari-lari
nakal menguis pipi
selalu ke kanan.. kadang ke kiri
senja bersuara "mari kesini.."
lalu kami berlari lagi
begini.. bukan begitu..
awan melihat tegar jiwamu
ketika lutut mu bertelut kerana tak terkatakan beban di bahu
tanah setia menanggung berat di hatimu
jika tanah retak hilang mampu
"kami di sini" kata angin dan gunung batu
mengharap hati itu menjadi liat dan beku
ketika titis air mata itu jatuh satu-persatu
alam mengharap hati itu akan segera menjadi liat dan beku
"menangislah dan berdirilah seperti soldadu"
mereka katakan lagi.. "menangislah kemudian berdirilah seperti soldadu"
perlahan khudrat itu mendongak..
ketika tangisnya masih membasahi pipi
ketika lukanya masih berdarah merah..
perlahan-lahan...
lalu seluruh penjuru alam menjunjungnya..
membawanya terbang melewati langit-langit
merentasi angin yang berlarian nakal
menjamah warna-warna pelangi
melewati jingganya senja di kaki bukit
seluruh alam berpesta...
kerana hatinya cekal..
kerana dia memilih untuk bangkit dan menjadi utuh
kental seperti soldadu perang
..tentang luka itu..
biarkan angin membawanya lalu..
jauh dan tidak tercapai oleh sang waktu
dan berlarilah laju bersama pelangimu
tidak seperti dulu..
::must be strong::must be brave::must go on::
Wow! Nice writing, and nice drawing too!
ReplyDeleteLemme showoff my talent too! XD
----------------------------------------------
Luka itu, angin telah membawanya lalu
Semakin jauh, semakin hilang..
Tetapi waktu itu sentiasa menunggumu
Mengikuti telapak kakimu
Perlahan-lahan,
Perlahan-lahan..
Kadangkala ia sesat ketika mengikuti,
Tapi bagaikan takdir dan ketentuanNya,
ia kembali mengikutimu, menghampirimu,
Perlahan-lahan,
Perlahan-lahan..
Didalam hati, tertanya lagi..
Apakah bisa kau membunuhku?
Meninggalkan ku, melupuskanku?
Wahai soldadu,
Jawapanmu..jawapanmu..
Darah pekat mengalir,
Membasahi waktu itu,
Hampir saja bisa membunuh waktu,
Namun angin senja memberitahu,
"Pejamkan matamu.."
"Pejamkan matamu.."
Malam datang membawa waktu,
Menyelubungi kisah lalu,
seakan-akan memberitahu,
Itulah dia, wahai waktu..
Itulah dia, sang soldadu..
Waktu itu, menjauhimu dikala siang,
Mendekatimu, dimalam ungu,
Wahai Soldadu...
yay!! hahaha.. such a great masterpiece. love it!
ReplyDeletekeep on writing bebeh!